•   Senin, 30 Januari 2023
Gagasan
( kata)
Antisipasi Transformasi dalam Belajar Mengajar

Kurikulum sudah perlahan bergeser, dari awalnya K-13 yang mengedepankan pendidikan karakter, sedikit demi sedikit akan mulai transformasi ke kurikulum merdeka. Menurut saya ini tidak bisa dihindarkan.

Saya memiliki beberapa alasan, utamanya adalah pola kehidupan yang berbeda paska adanya pandemi covid-19, di mana online memiliki peran sangat penting. Hal ini pula menjadikan pola belajar mengajar berubah.

Yang pertama, proses pembelajaran tidak terpaku lagi dalam kelas. Terbukti kampus saat ini tidak kembali seratus persen pada masa sebelum pandemi, justru model online seperti zoom meeting terus digunakan dengan porsi yang lumayan besar.

Bahkan teman saya kuliah S3, lebih sering zoom meeting hingga sekarang dibanding tatap muka.

Kedua, proses pembelajaran lebih dibutuhkan variasi dan inovasi. Dengan kata lain, model penyeragaman seperti sebelum covid-19 sudah mulai tidak begitu digemari. Monoton di kelas akan menjadi unsur yang dianggap aneh. (Baca juga: Oleh-oleh Pertukaran Pemimpin Muda di Australia)

Bahkan dari sisi pembelajar, siswa, lebih dituntut untuk belajar dari banyak sumber dengan cepat dan luas. Ingat video viral yang menyebutkan, bahwa Google lebih pintar dari guru. Pintar dalam arti bisa menjawab pertanyaan yang sesuai dengan passion. Artinya banyak sumber lain yang lebih akomodatif dengan keinginan siswa.

Maka tuntutan kepada guru tidak lagi murni unsur pelajaran, tapi lebih kepada bagaimana siswa bisa belajar dengan mandiri, menciptakan trigger (pelecut) dalam pribadi siswa. Menurut saya inilah tugas utama guru era sekarang. (Baca juga: Semua Serba Gadget Kecuali Karakter)

Terakhir, media sosial sudah tidak lagi menjadi sarana narsis, tapi akan menjadi media penunjang pembelajaran. Mungkin tidak terbayangkan, tapi hal ini sudah perlahan berfungsi. Channel-channel edukasi semakin melejit.

Saya sebagai pemerhati literasi yang memiliki kesempatan untuk keliling ke penjuru desa, merasa masih banyak yang belum menyadari hal ini.

Bahkan banyak guru yang masih belum tahu bahwa mereka bisa eksis di media sosial dengan kompetensi mengajar yang dimiliki.
Ingat, perubahan itu sudah ada di depan mata. (Baca juga: Nasihat Ki Hajar Dewantara yang Kini Relevan)

Foto: Salah satu agenda Indonesian Young Leaders Exchange di Australia Agustus 2022

Tinggalkan Komentar

Artikel lainnya...

Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat
Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat

Pengalaman di dua percaturan politik pemilihan kepala…

Ide Saya di Buku Pertama
Ide Saya di Buku Pertama

Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik…

Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa
Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa

Mungkin banyak masyarakat belum tahu bahwa anggota…