•   Minggu, 29 Januari 2023
Berita, Kabar Baik
( kata)
Cerita Dari Indonesian Young Leaders Exchange di Australia

Alhamdulillah, saya menginjakkan kaki di Canberra, Australia setelah menempuh perjalanan hampir 10 jam. Ini salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya lakukan. Namun lelah itu seketika disambut dengan suhu menusuk tulang.

Bayangkan minus 1 derajat. Meskipun saya adalah orang gunung di wilayah Magetan, tapi biasanya hanya menyentuh angka belasan derajat. Belum pernah mengalami suhu dengan satu digit angka.

Apalagi saya alergi dingin. Tentu ini menyiksa. Bahkan di antara yang lain saya sudah berpenampilan paling tertutup dengan penutup kepala hingga telinga, bahkan bermasker lengkap. Yang lain bisa tersenyum, saya harus melawan dingin tersebut.

Pada pertemuan awal semua mengenalkan diri. Ada Mas Riza Zulverdi dari CNN Indonesia. Ada juga Mas Wisnu Nugroho sebagai pemimpin redaksi Kompas.com. Pemilihan utusan kali ini bisa klik di tulisan sebelumnya: Bangga terpilih Sebagai Salah Satu Indonesian Young Leaders

Ada Mas Revolusi Riza Zulverdi, Inu Kompas, Dimas Oky, Clara konservator aksara, Reno Megawati Institut, Ketum PMII Abe, Fadh stafsus pak menteri, Dokter Gamal yang seleb IG, Gracia Doctor muda, Edwin KNPI yang konon kandidat walikota Bandung (hehehe), Kevin Nasdem yang diam diam dahsyat, Putri Komarudin sang legislator. Dan masih banyak lainnya.

Dari sini saya optimis, kalau Indonesia ke depan memiliki masa depan cerah jika melihat sosok mereka satu persatu, mulai dari penulis, jurnalis, hingga yang terjun di dunia sosial. Vibes yang saya rasakan sangat positif. (Baca juga: Pemuda Harus Mau dan Mampu Membangun Desanya)

Untungnya selama ini saya berkumpul dengan teman-teman yang masih muda-muda. Jadi saya bisa menyesuaikan dengan irama mereka.

Rombongan juga mengadakan bincang pagi dengan Duta Besar Indonesia untuk Australia, Pak Siswo Pramono. Diskusi potensi kerja sama Asia Pasifik dan hubungan bilateral Indonesia Australia. Di sini saya memahami bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis.

Yang paling penting bagi saya adalah melihat gedung parlemen di Canberra dan melihat bagaimana proses sebuah kebijakan dibuat. Cukup sistematis dan diskusinya hangat.

Ditambah lagi pertemuan dengan Tim Watss, politisi muda yang saat ini menjadi Assistant Minister for Foreign Affairs of Australia. Ia memiliki karir politik yang cukup cemerlang di usia 40 tahun (lahir 1982). Bagi saya beliau cukup menginspirasi dengan gayanya yang elegan dan bertutur yang ramah.

Ini masih tahap pertama. Tapi saya sudah merasakan pertemuan-pertemuan penting luar biasa.

Sementara ini dulu oleh-oleh dari Indonesian Young Leaders Exchange di Australia pada 7-14 Agustus lalu. Semoga lain waktu bisa menuliskan lagi oleh-oleh cerita lainnya. (Baca juga: Pemuda Harus Mampu Membawa Perubahan Positif)

Bersambung ke bagian dua: Cara Australia Agar Rakyatnya Sehat

Tinggalkan Komentar

Artikel lainnya...

Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat
Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat

Pengalaman di dua percaturan politik pemilihan kepala…

Ide Saya di Buku Pertama
Ide Saya di Buku Pertama

Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik…

Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa
Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa

Mungkin banyak masyarakat belum tahu bahwa anggota…