•   Minggu, 29 Januari 2023
Gagasan
( kata)
Diana: Ajaran Ki Hajar Dewantara Justru Relevan di Era Digital

Ketika pandemi hadir di Indonesia, satu persatu aplikasi pendidikan bermunculan. Pembelajaran-pembelajaran dihadirkan dengan atraktif dan siswa bisa dengan mudah duduk di depan layar ponsel dan laptop. Lalu pertanyaan besarnya adalah dimana guru? Apakah masih diperlukan?

Menurut saya, guru tetap dibutuhkan. Digitalisasi hanyalah perpindahan konten yang diolah dalam bentuk algoritma. Perkalian, perhitungan, rumus, nama pahlawan, bahkan nama-nama ibu kota bisa dengan mudah ditanam di aplikasi digital.

Artinya program pembelajaran memang bisa diganti dan semua siswa tinggal klik saja, berikan satu sentuhan di layar. Bahkan kalau di YouTube guru tampil dan berbicara, seolah kita mendengarkannya. Serasa dalam kelas. (Baca juga: Refleksi Hari Guru 2021, Sekolah Serba Gadget, Tapi Karakter Tak Bisa Diajarkan Oleh Mesin)

Tapi sekolah bukanlah faktor pembelajaran saja, ada yang namanya pendidikan. Inilah titik yang tidak bisa digantikan oleh aplikasi dan hanya bisa dihadirkan oleh sosok guru. Pendidikan bukanlah pelajaran, tapi lebih kepada teladan.

Dari keteladanan inilah ada pendorong inovasi, penarik picu penguatan karakter dan mental, dan kehangatan manusia tak bisa tergantikan oleh mesin. Di titik inilah guru menjadi penting. Malahan, sangat penting.

Memang guru bukan lagi pusat pengetahuan. Siswa bisa mendapatkan apa saja yang bersifat kognitif di internet. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan sekaligus harus mampu menangkap kelebihan siswa-siswanya yang kemudian mendorongnya untuk memperdalam kelebihan itu.

Saya kira, ajaran Ki Hadjar Dewantara tentang Tut Wuri Handayani itu malah makin relevan. Guru itu ing ngarsa sing tuladha 'di depan memberi teladan amal baik;' guru itu ing madya mangun karsa 'di tengah sebagai fasilitator membakar semangat belajar para siswa;' guru itu tut wuri handayani 'di belakang menjadi pendorong dan pemberi motivasi.'

Saya kira, hadirkan kembali ajaran Ki Hadjar Dewantara tentang bagaimana menempatkan siswa bukan sebagai gelas yang kosong. Mereka datang ke sekolah bukan manusia kosong. (Baca juga: Family Time yang Asyik di Alun-alun Magetan)

Inilah yang jarang disadari guru sekarang. Masih menganggap siswa kosongan, padahal sudah ada isi pengetahuan, bisa jadi justru lebih pintar.

Mari melihat siswa sebagai manusia dini yang penuh keingintahuan, yang ingin banyak mencoba, yang memiliki energi yang melimpah. Guru mampu bermain bersama mereka: belajar bersama, bekerja bersama, bermain bersama.

Guru yang masih menjadi pusat pengetahuan kognitif bakal dilindas oleh zaman ini. Masih ingat dengan semboyan Ki Hadjar: semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah? Guru tidak bisa digantikan. (Baca juga: Mahasiswa Harus Jadi Agen Perubahan)

oleh Diana Amaliyah Verawatiningsih, S.Pd

(Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Surabaya & Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur, Fraksi PDI Perjuangan)

Baca pula gagasan sebelumnya: Saatnya Batik Nilo Pacitan Tampil di Kancah Nasional)

Tinggalkan Komentar

Artikel lainnya...

Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat
Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat

Pengalaman di dua percaturan politik pemilihan kepala…

Ide Saya di Buku Pertama
Ide Saya di Buku Pertama

Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik…

Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa
Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa

Mungkin banyak masyarakat belum tahu bahwa anggota…