•   Senin, 30 Januari 2023
Berita, Kabar Baik
( kata)
Kaki Palsu Untuk 8 Warga Tuna Daksa

Ladimin tampak bersemangat. Ia ingin segera mencoba kaki barunya. “Silakan, sudah selesai. Berdiri, dan coba jalan pelan-pelan,” kata Syawaludin, pembuat kaki palsu dari Jakarta.

Ladimin lupa pesan untuk berjalan pelan. Dia melangkah dengan cepat, dan jarak langkahnya panjang. Semua mengingatkan Ladimin untuk mengurangi kecepatan jalannya. Tapi, Ladimin sudah merasa nyaman. Kaki barunya telah siap membawa berjalan ke mana saja.

Warga Desa Karas, Kecamatan Karas, Magetan ini mengaku telah lama memimpikan punya kaki palsu. (Baca juga: Meneruskan Kebiasaan Baik, Bagikan Total 65 Kursi Roda)

“Sudah lama sekali saya ingin punya ini. Saya beristirahat karena sakit selama setahun, setelah itu saya beraktivitas seperti biasa. Bekerja serabutan. Sampai mendirikan terop,” ceritanya.

Ladimin kehilangan sebelah kakinya karena kecelakaan. Kakinya terlindas truk, tiga tahun lalu.

“Cuma ini yang saya inginkan, kaki palsu. Saya sudah hidup sendiri sekarang, kedua orang tua saya sudah meninggal,” katanya.

Sejak dipasang, Ladimin tak melepas kaki barunya. Ia terus berjalan di halaman rumah Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana Amaliyah Verawatiningsih di Mangkujayan, Magetan. Rabu (17/11/2021) siang itu seperti dilaporkan magetankita.com.

Diana Sasa memberikan donasi kaki palsu kepada delapan tuna daksa, salah satunya Ladimin. (Baca juga: Jumat untuk Rakyat, Diana Borong Sapu)

“Semoga ini bisa membantu bapak-bapak untuk beraktivitas lebih baik,” katanya kepada para penerima bantuan kaki palsu.

Warga mendapat kaki palsu ini, yakni: Arifin (33 tahun), warga Desa Bogorejo, Barat, Magetan yang kehilangan satu kakinya karena kecelakaan kerja. Diran Pangestu (41 tahun), Sobontoro (Kec. Karas). Sutiran (70 tahun), (Desa Grabahan, Kec. Karangrejo). Sikamto (64 tahun), (Desa Klagen, Kec. Maospati). dan, Ladimin.

Tiga lainnya yaitu Harno (44 tahun), warga Desa Bedagung, Darwanto (50 tahun) Desa Turi, Panekan dan  Niko Prasetyo (20 tahun), Desa Ngiliran, Kec. Panekan, Magetan.

Harno hampir saja menitikkan air mata, saat kaki palsu untuknya datang. Sebelumnya, dia sudah kemana-mana untuk bisa mendapatkan bantuan kaki palsu.

“Dinsos hanya bilang tunggu dan sabar. Kaki palsu ini sama pentingnya dengan perut, makin lama ya kami ini makin gak bisa apa-apa. Ini sangat vital untuk beraktivitas,” kata Harno seperti dilaporkan magetankita.com.

Dua tahun pandemi ini membuat Harno tak memiliki penghasilan yang pasti. Usaha jualan stikernya di Kecamatan Karas terpaksa tutup karena sepi pembeli.

“Sudah gak mungkin bisa untuk beli sendiri. Makanya, dapat kaki palsu ini seperti mimpi,” ucapnya terharu.

“Kaki palsu ini terbuat dari bahan PVDE, sehingga ringan dan nyaman dipakai. Busa pelindung kaki di bagian dalam juga berbahan lembut sehingga tidak akan menimbulkan sakit atau bahkan gatal,” kata Syawaludin dari Yayasan Tuna Daksa.

Selain kaki palsu, Mbah Sutiran juga mendapat sepasang penyanggah kaki (kruk) baru. Diana Sasa memberikan sepasang kruk baru karena milik Mbah Sutiran dipinjam temannya, sehingga dia datang dengan kruk bekas yang tak seragam. (Baca juga: Gandeng Dinsos, Entaskan Lansia Sakit Tak Terawat)

Niko Prasetyo (20) mengaku siap berlari kembali. Dia siap untuk mengikuti kejuaraan lari seperti beberapa even yang pernah diikuti. Dia pernah meraih juara lari nomor 100 meter dan 200 meter di tingkat provinsi. Lomba lari khusus penyandang disabilitas.

“Siap Bu,” katanya kepada Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana AV Sasa. Kaki palsu yang sebelumnya digunakan sudah rusak pada bagian telapak.

Niko kehilangan kakinya 2006 silam. Sehari sebelum dia masuk sekolah TK itu, dia ditabrak truk di jalan raya dekat rumahnya. Niko merupakan salah satu atlet difabel untuk nomor lari dari Magetan. Kaki palsu baru menjadi kado ulang tahun Niko pada 8 November lalu.

“Data Niko ini, saya dapatkan dari Pak Candra Darusman relawan Paguyuban Wong Magetan (PWM). Semula ya Niko saja yang akan menerima bantuan. Namun, Alhamdulillah dua hari ini, total delapan orang penyandang disabilitas menerima kaki palsu,” kata Diana Sasa.

Diana Sasa berharap bantuan kaki palsu itu membuat mereka yang menerimanya lebih mudah beraktivitas.

Tinggalkan Komentar

Artikel lainnya...

Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat
Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat

Pengalaman di dua percaturan politik pemilihan kepala…

Ide Saya di Buku Pertama
Ide Saya di Buku Pertama

Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik…

Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa
Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa

Mungkin banyak masyarakat belum tahu bahwa anggota…