•   Minggu, 29 Januari 2023
Gagasan
( kata)
Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat

Pengalaman di dua percaturan politik pemilihan kepala daerah itu mendorong pimpinanku untuk memberi tugas lanjutan: Pemilihan Gubernur Jawa Timur. Kali ini, aku belajar bekerja dalam tim. Kami berlima dalam satu rombongan. Satu editor, satu kameramen, dua reporter (salah satunya adalah aku), dan seorang sopir.

Tugas kami adalah mengikuti semua kegiatan kampanye calon gubernur yang diusung partai merah. Perjalanan keliling 32 kabupaten itu pun menjadi sebuah petualangan tersendiri.

Satu hari kami di pantai utara, besok bisa ada di tapal kuda, keesokannya lagi sudah ada di Mataraman. Hari ini di Jember, besok sudah harus ada di Pacitan, lusa di Madura.

Dalam sehari bisa lima hingga 10 titik yang harus kami liput. Berkejaran dengan waktu sedari pagi hingga larut malam. Ketika anggota rombongan lain selesai di satu titik dan bisa beristirahat dalam perjalanan menuju titik berikutnya, kami justru harus bekerja menyelesaikan tulisan.

Menulis dengan memangku komputer jinjing di atas laju kendaraan dengan kecepatan tinggi, dan jalan raya yang tak selalu lurus, sungguh membutuhkan ketahanan dan keterampilan yang tak mudah. (Baca juga: Suka Menulis Diari Sejak SD, Pernah Juara di SMA)

Rasa pening dan mual tak dapat dihindari. Pun demikian, aku menikmatinya seperti membaca prosa dengan plot melompat-lompat penuh ketegangan. Menulis, bagiku, adalah sebuah petualangan imajinasi pikiran dan kelenturan memainkan jari jemari dalam kondisi apa pun.

Keasyikan menulis berita politik itu baru mendapat jeda ketika pemilu legislatif tiba. Meski tetap harus menulis, namun tanggungan yang kupundaki tak seberat sebelumnya. Demikian riuhnya peserta pemilu (ketika aku juga menjadi salah satu pesertanya) hingga tak mungkin memberitakan semua calon.

Kesempatan ini kujadikan dalih untuk beralih sejenak pada kepentinganku pribadi sebagai calon legislatif di daerah pemilihan yang sama seperti pemilu 2009. Kumainkan jariku dengan menulis sebanyak mungkin di media sosial.

Kuyakinkan calon pemilih dengan tulisanku. Kupaparkan profilku, pengalamanku, gagasan, dan apa yang akan kulakukan di gedung dewan Jalan Indrapura Surabaya itu. (Baca juga: Pengalaman Jadi Celg yang Hampir Putus Asa)

Meski kutahu pengguna media sosial belum menjangkau ceruk terdalam pemilih pedesaan, namun aku yakin alat ini akan berdampak. Dibantu kawan-kawan pekerja sosial media, 13 ribu suara terkumpul untukku.

Sayangnya, itu belum cukup mengatarkanku ke Indrapura. Namun setidaknya aku telah menjalani jalan politik ini dengan tidak melepaskan panggilan batinku: menulis.

Entah bagaimana, sistem politik di negeri ini ternyata telah membuat kami orang-orang partai nyaris tak berhenti bekerja dari urusan pilih memilih. Tak lama berselang dari pemilihan legislatif, kami sudah disibukkan dengan pemilihan presiden.

Pada 2014 adalah tahun gegap gempita politik. Perseteruan antar pendukung kandidat demikian gaduh. Menyembul nyaris di segala lini kehidupan. Dari media sosial hingga warung kopi. Dari kelompok arisan hingga anak band. Ini pesta demokrasi paling unik yang pernah kualami di negeri ini.

Dalam situasi gaduh itu, aku kembali mendapat tugas lagi seperti ketika pemilihan gubernur. Mengekor kemanapun tim kampanye bergerak. Jika calon presiden kami (sekarang dia sudah jadi presiden) datang ke Jawa Timur maka tugas kami menjadi lebih berat karena harus berebut dengan jurnalis media lain yang jumlahnya tak sedikit (nyaris satu bus besar!).

Apalagi calon presidennya kerap membuat kejutan dengan gemar berhenti mendadak di keramaian. Pernah suatu waktu, kami sedang dalam perjalanan di pedalaman hutan Ngawi yang jalannya berbatu dan rusak parah. Tiba-tiba calon presiden itu berhenti karena ingin menyapa beberapa petani yang sedang menanam padi.

Tak ayal, lari tunggang langganglah kami. Menerobos rombongan kendaraan yang berderet panjang. Berlari dengan satu sepatu tertinggal dan nyebur ke pematang sawah demi mengabadikan momen dalam jepretan kamera dan merekam pembicaraan. (Baca juga: Dukung Petani Organik)

Tak jarang aku harus bangun tiba-tiba dengan terkaget-kaget ketika sedang pulas tertidur dalam perjalanan. Hanya karena calon presidennya tiba-tiba berhenti di pasar untuk membeli permen. Repotnya, dimana ia berhenti maka menyemutlah orang-orang di sekitar.

Aku harus pandai-pandai mencari celah di tengah kerumunan agar mendapat sesuatu untuk kutulis. Tak sekali dua aku kehilangan berita karena saking banyaknya kerumunan manusia yang tak bisa kutembus.

Tulisan demi tulisan mesti kuhasilkan meski tidur hanya satu dua jam dalam perjalanan. Pernah kami masuk penginapan pukul dua dini hari. Padahal pukul empat pagi harus melanjutkan perjalanan.

Maka tak berani kami tidur. Ketinggalan rombongan adalah petaka yang akan menyulitkan proses liputan. Namun keletihan itu tumpas bila aku melihat bagaimana rakyat nyaris di segala penjuru yang kujumpai selalu menanti kedatangan sang calon presiden. (Baca juga: Aku Bangga di PDI Perjuangan)

Baru kali itu aku melihat kandidat demikian dielu-elukan rakyatnya. Seperti ketika kami memasuki daerah Tulungagung pada pukul dua dini hari, dan tiba-tiba rombongan dicegat relawan yang jumlahnya ribuan. Mereka bersorak gembira meski kami hanya berhenti beberapa menit.

Kejadian demi kejadian unik selama mengikuti proses politik itu mendorong semangatku untuk mengabadikannya dalam tulisan. Aku harus mencatat setiap kejadian. Aku harus mengabarkan apa yang kulihat. Menulis, bagiku, adalah sebuah kesaksian.

Politik bagiku adalah sebuah prosa. Suatu narasi peristiwa-peristiwa  yang saling berkelindan. Menulis bagiku adalah puisi. Jalinan estetik rasa dan pikir dari pembacaan peristiwa.

Maka politik dan menulis bagiku adalah sebuah perjalanan sastrawi. Karena menulis dan politik adalah jalan yang telah kupilih untuk dilalui. Pada keduanya, kini aku mengabdi. (Baca juga: Ide Saya di Buku Pertama)

Diana AV Sasa, alumni jurusan Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 1999 ini berkecimpung di dunia buku dengan membuka perpustakaan yang diberi nama Dbuku. Ia menulis, menerbitkan, dan menjual sendiri buku-bukunya. Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku (2011) adalah buku mutakhir yang ditulisnya. Perempuan yang kini berdiam di Magetan dan aktif sebagai kader PDI Perjuangan dan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD JAwa Timur ini bisa dihubungi di Twitter/IG/Line @dianasasa.

Tinggalkan Komentar

Artikel lainnya...

Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat
Liputan Politik Sampai Keliling 32 Kota Sekali Berangkat

Pengalaman di dua percaturan politik pemilihan kepala…

Ide Saya di Buku Pertama
Ide Saya di Buku Pertama

Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik…

Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa
Peran Anggota DPRD dalam Penyaluran Program Beasiswa

Mungkin banyak masyarakat belum tahu bahwa anggota…